Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Jerat Sang Iblis
Ningsih melangkahkan kaki dengan berat, keluar dari kamar. Seluruh badannya terasa sakit dan remuk redam. Namun aneh, tidak ada bekas luka apa pun. Samar - samar kembali teringat kejadian semalam.
“Ahh semoga benar, Jin yang semalam menikah denganku semoga bisa membawa kekayaan untukku. Aku sudah muak hidup bersama Mas Agus dengan segala kesusahannya,” ucap Ningsih sambil keluar dari kamarnya.
Agus adalah suami Ningsih. Mereka menikah sudah tiga tahun dan memiliki seorang putra berusia setahun, bernama Wahyu Putra Sadewa. Sengaja Ningsih menyuruh Agus untuk mengajak Wahyu ke rumah neneknya di desa sebelah agar dia bisa melakukan ritual itu.
Ya, ritual - Menikah dengan Jin - yang diajarkan oleh teman Ningsih, bernama Ratih. Ratih sudah melakukannya dan menjadi kaya raya setelah menikah tiga kali dan suaminya meninggal semua. Ratih mengajak Ningsih melakukannya dengan ketentuan jika menikah dengan Jin maka setiap suami meninggal, harta kekayaan akan bertambah.


Jangan ditanya lagi, ini jelas sesat! Karena nyawa suami sebagai pengganti harta yang Jin itu berikan. Tidak hanya itu, menjadi budak napsu Jin juga wajib dilakukan setelah ritual itu dimulai.
Himpitan ekonomi membuat Ningsih putus asa. Semalam ritual itu sudah dilakukannya. Jin yang dinikahinya tak berwujud. Dia hanya bisa merasakan kehadiran dan sentuhan Jin tersebut. Suaranya pun terdengar. Ningsih begitu menikmati permainannya, terasa sangat nyata!
Menurut perjanjian, pagi ini Ningsih akan menerima sejumlah uang dan emas di dalam tudung saji yang semalam berisi sesaji (bunga dan menyan). Ningsih bergegas mengecek ke dapur.
'Awas saja kalau Ratih bohong padaku!' batinnya dengan sedikit ragu.
Ningsih terkejut membuka tudung saji. Uang! Uang! Emas! Entah berapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan berjejer bersama beberapa emas. Ningsih segera mengambil plastik hitam (kresek) dan memasukkan semua ke dalamnya. Ningsih takut Agus curiga. Setelah menyimpan kresek yang penuh tersebut, Ningsih pun dikagetkan dengan suara orang berteriak di depan rumah.
"Ningsih! Ningsih!", seru orang di luar rumah.

Rumah Ningsih masih semi kayu. Pintu pun sudah keropos. Itu yang membuat tamu enggan mengetuk pintu rumahnya.
Ningsih bergegas keluar, saat pintu dibuka, banyak tetangga datang. Terlihat beberapa orang menggotong seorang yang dia kenal.
"Mas Agus!"
Ningsih sangat kaget melihat sesosok orang yang digotong. Iya, itu suaminya. Tetangga bilang, Agus ketabrak mobil di persimpangan jalan. Wahyu ternyata ditinggal di rumah orang tuanya Agus. Dia mengira Agus masih di sana beberapa hari. Ningsih pun menangis melihat kondisi Agus penuh darah.
"Sabar ya Ningsih. Ini semua kehendak Allah. Ikhlaskan suamimu," kata Pak RT, Agus sudah meninggal. Ningsih dibantu oleh warga sekitar pun menyiapkan pemakaman untuk Agus.
Ternyata Ratih benar! Uang datang, suami melayang. Entah Ningsih harus senang atau sedih? Inilah awal mula kisah perjalanan Ningsih di dunia kelam. Hingga menjadi janda tujuh kali karena JERAT IBLIS.
***

Hari ini tepat 100 hari meninggalnya Agus. Setelah kejadian mengerikan itu, Ibu mertuaku sangat sedih hingga jatuh sakit.
Kalian pasti penasaran kan dengan uang yang Ningsih sembunyikan itu? Dia diam -diam sudah membeli sebuah rumah di kawasan perumahan baru, dekat rumah Ratih. Ningsih juga sudah mencari ART untuk membantu dan menemaninya serta Wahyu di sana. Nama asistennya adalah Mak Sri. Usianya sekitar lima puluh tahun tapi sangat cekatan dan terlihat dapat dipercaya.
Tentunya Ningsih menunggu waktu dan alasan yang tepat untuk pindah. Dia harus memikirkan hal yang tepat agar tidak dicurigai oleh keluarga Agus atau keluarganya sendiri.
Ningsih kembali menatap foto pernikahannya, sambil mengelus wajah Agus di foto.
"Maafkan Ningsih ya, Mas. Ini semua demi masa depan Wahyu juga. Aku tidak mau hidup susah terus seperti itu. Maafkan Ningsih ya mas dan terimakasih mas sudah berkorban untuk kebahagiaan Ningsih dan Wahyu, anak semata wayang kita."
Entah ini salah atau benar. Tetapi air mata Ningsih menetes, mengalir begitu saja.
***
Dua minggu kemudian ....
"Wahyu sayang, jangan lari ya. Nanti jatuh. Wahyu kan belum lancar yang jalan." ucap Ningsih.
Ningsih merasa sangat bahagia sudah pindah ke perumahan yang bagus nan mewah. Rumah Ratih hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya.

Wahyu pun semakin senang belajar berjalan dan berlari. Tentunya Mak Sri ikut mengawasi.
Susah menemukan alasan untuk Ningsih pindah, jadi dia berbohong kepada semua orang. Dia berpura - pura pergi bekerja di luar kota dan Wahyu dibawa juga, serta untuk melupakan trauma atas kepergian Agus. Alasan yang tepat, bukan?
Ningsih sedikit tenang karena perumahan ini jaraknya cukup jauh dari desanya. Dia pun mencari tempat untuk berjualan, iya di pinggir jalan raya cukup strategis dan harga sewanya pun terjangkau.
Dia bertekad akan menggunakan uang itu sebaik mungkin. Saat itu dia berpikir tidak perlu menikah lagi, tidak perlu mengorbankan orang lain lagi.
Baginya, cukup Agus, suaminya, yang menjadi korban untuk memulai hidup baru bersama putranya. Namun, Ningsih tak menyadari dirinya sudah masuk dalam JERAT IBLIS yang tidak semudah itu bisa lepas atau bebas.
***
PERKENALAN TOKOH
>>> Ningsih, wanita cantik khas desa dengan tubuh bohay. Muak merasakan penderitaan dan kemiskinan, membuatnya gelap mata ikut dalam JERAT IBLIS. Kecantikan dan pesonanya membius setiap lelaki di dekatnya. Jangan kaget, banyak 'Ningsih-Ningsih' lainnya di dunia nyata.
>>> Bima, suami Jin yang menikah dengan Ningsih. Bisa dikatakan Jin ini kaki tangan Iblis Neraka penguasa perbudakan malam yang haus darah dan kepuasan seksual. Bisa berubah wujud menjadi manusia jika kekuatan maksimal atau memerlukan tumbal manusia.
>>> Mak Sri, asisten rumah tangga yang bekerja bersama Ningsih hingga akhir nanti. Orang penyabar dan sayang kepada Wahyu.
>>> Ratih, sahabat Ningsih, mengajak Ningsih keluar dari kemiskinan. Namun memasukkannya dalam lubang dosa tak berujung. Ratih termasuk wanita desa yang cantik, berbadan mungil, dan hidung mancung. Menikah dengan suami pertama yang berusia dua puluh tahun lebih tua darinya, mempunyai dua orang anak.
Bersambung .
Kisah Sahur Pertama

mimi.my.id :Kisah Sahur Pertama


"Sahur nanti kita makan apa, Ma?"
Tiga kali sudah Nurul bertanya pada mamanya. Tiga kali juga dia mendapat jawaban yang sama.
"Pokoknya lezat. Nanti mama bangunkan."
"Nasi, tempe, kecap manis lagi?"
"Ada sepotong ayam untukmu."
"Sip. Aku tidur dulu ya Ma."
Arbayah mencium Nurul dan dengan lembut dia berbisik. "Jangan lupa baca doa. Doa untuk mama, doa untuk almarhum papa. Doa untukmu juga. Nanti kalau lebaran, pakai baju baru."
Kelopak mata Nurul membesar. Kantuknya hilang sesaat.
"Hore. Baju baru. Tapi bukan baju baru seperti tahun lalu kan Ma?"
"Yang mana? Oh ya ya, mama baru ingat. Maaf ya, Nak. Itu memang sarung batik yang mama jahit untuk baju lebaranmu. Sarung batik itu pemberian papamu waktu melamar dulu. Tapi jarang dipakai lho." Lirih sekali suara Arbayah.

Kisah Sahur Pertama


"Teman-temanku bilang, itu untuk sarung. Bukan untuk baju."
"Ya sudah. Nanti mama ajak kamu ke mal sebelum lebaran. Jatahmu seratus ribu."
Nurul memeluk mamanya. Bagi Nurul, pantang pergi tidur sebelum mencium mamanya.
Meskipun baru kelas lima sekolah dasar, Nurul sudah mengerti kesulitan mamanya. Karena itu, ia selalu tidur cepat agar bisa bangun pukul empat.
Dia menjerang air untuk dicampur dengan air sumur yang dingin. Mamanya tak kuat mandi dengan air dingin.
Mamanya selalu berangkat ke pasar usai sholat subuh. Nurul sendiri sibuk mempersiapkan buku pelajaran, menyetrika baju dan siap-siap berangkat sekolah.
Sebelum ke sekolah, dia mampir dulu ke rumah Bu Suwinah. Ia selalu membawa 20 risoles buatan Bu Suwinah untuk dijual pada teman-temannya. Tak jarang, Bu Atun, wali kelasnya, juga membeli risoles Itu.
Hasil berjualan risoles ia tabung. Cita-citanya, uang tabungan itu akan ia gunakan untuk keperluan sekolah di SMP.

Nurul tak pernah sarapan. Bukan tidak mau melainkan tak sempat juga untuk berhemat.
Di sekolah, Nurul adalah ketua kelas. Ia anak cerdas.
"Aku tidur duluan ya Ma."
Arbayah mengangguk. Sedaya upaya Arbayah menyembunyikan sakitnya. Sudah seminggu dia demam. Belum juga turun panas tubuhnya.
Arbayah kuat. Dia tidak perduli pada demamnya. Ia tetap saja subuh-subuh sudah ke Pasar Pagi. Dia harus segera menggelar dagangannya. Bayam, cabai, kacang panjang, tomat dan terong. Jika kesiangan, pengunjung pasar sudah sepi. Sayur itu layu dan tidak bisa dia jual esok, kecuali terong dan cabai.
Sudah sebulan ini pasar sepi pengunjung. Arbayah tetap berjualan. Jika tidak, tak ada uang untuk membeli beras dan sangu anaknya yang masih kelas lima.
Sebenarnya Arbayah sudah minum obat penurun panas. Dia bingung, panasnya tak turun. Tenggorokannya semakin kering. Dadanya sesak. Kadang ia terengah-engah mencari udara.
Sebagai orang tua tunggal, tak ada jalan lain bagi Arbayah untuk memperbaiki nasibnya kecuali meneruskan usaha mendiang suaminya.

Sudah dua tahun suaminya berpulang. Persis dua hari menjelang ramadhan. Sejak itu pula kehidupan Arbayah semakin sulit. Kesulitan yang tak pernah ia perlihatkan pada putri tercinta. Satu-satunya.
"Aku berjanji padamu, Mas. Aku akan besarkan anak kita." Kata Arbayah sesaat sebelum jenazah suaminya ditandu ke makam, sekitar 300 meter dari rumah mungilnya, dua tahun lalu.
Malam semakin larut. Arbayah tak bisa tidur. Tubuhnya semakin panas. Nafasnya semakin sesak. Sekuat tenaga dia menjaga mulutnya untuk tidak mengerang. Ia tak ingin Nurul terbangun.
Azan subuh berkumandang di surau. Nurul terbangun. Ia sadar, waktu sahur telah berlalu. Wajahnya cemberut. Ia ingat sepotong ayam goreng yang dijanjikan mamanya untuk sahur di hari pertama. Air matanya mengalir karena sahur pertama lewat begitu saja.


"Ma, bangun. Kita terlambat sahur." Kata Nurul seraya menggoyang-goyang tangan mamanya.
Tangis Nurul memecah subuh menjelang pagi yang masih sunyi. Mama yang amat dicintai tidur selamanya
Melawan Pelakor Atau Pebinor adalah Jihad Melawan Iblis Berwujud Manusia
Melawan Pelakor/Pebinor adalah Jihad Melawan Iblis Berwujud Manusia

Menulis tema ini sangatlah berat. Mengingat pasti akan menimbulkan reaksi entah pro dan kontra, atau sekedar bertanya "Siapa kamu mengecap orang sebagai iblis?"

Sebelum menulis lebih lanjut saya batasi isi tulisan hanya membahas pelakor yang belum menikah baik secara siri maupum resmi KUA, dan pebinor yang terus menggoda istri orang sehingga mereka bercerai dari pasangan sahnya. Perempuan yang menikah baik secara resmi maupun siri, bukan dimasukkan dalam sebutan pelakor hingga mereka menyebabkan perceraian suami dan istri sahnya. Laki-laki termasuk golongan pebinor, hingga ia membuat seorang wanita bercerai dengan suaminya agar mau menikah dengannya.

Penulis juga tidak membahas perceraian yang disebabkan oleh alasan yang diperbolehkan secara syari'at, karena bersifat wajib. Semoga perceraian yang disebabkan oleh alasan syar'i bisa dibahas pada tulisan berikutnya. Aamiin.

Lalu lalang cerpen dan tulisan tentang pelakor/pebinor membuat grup KBM jadi menghangat, terkadang cenderung panas. Antara orang yang setuju dengan tulisan atau yang tidak setuju. Beberapa komentar malah menyudutkan pasangan sah dengan kalimat "Untuk apa pasangan seperti itu dipertahankan. Buang aja kelaut! Bodoh istri/suami yang mempertahankan keluarga!" Subhanallah.

Baiklah kita mulai dari kata pelakor/pebinor dulu. Pelakor/pebinor adalah laki-laki/wanita yang dengan sengaja mendekati pasangan sah orang lain. Mendekati dalam arti plus. Maksudnya bukan sekedar berteman atau bersilaturahmi. Tapi ya, itu tadi. Teman plus. Teman tapi mesra. Memberi perhatian, kasih sayang dan segala bentuk curahan cinta kepada pasangan sah orang lain.

Teman plus-plus-plus ini gembira dan bahagia tatkala pasangan sahnya cemburu. Cemburu ini membuat suami/istri marah dan keluarga mereka bertengkar hingga yang paling parah adalah ucapan kata talak dari suami atau gugatan cerai dari istri. Saat kata cerai dan talak diucapkan, sudah bisa dibayangkan bahagia dan gembiranya hati para pelakor/pebinor ini.

Pelakor/pebinor ini mencari kelemahan atau sisi negatif pasangan sah dari wanita/laki-laki yang diganggunya. Tujuannya agar si  pasangan sah benci terhadap suami/istrinya. Saling membenci karena adu domba pelakor/pebinor. Sifat adu domba atau namimah ini adalah sifat iblis. Iblis sangat suka bila adu dombanya berhasil menceraikan suami dari istrinya.

“Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor,

‘Saya telah melakukan godaan ini.’

Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’

Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah berpisah (talak) dengan istrinya.’

Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.'” (HR. Muslim 2813).

Memang iblis berwujud manusia, pelakor/pebinor tugasnya utamanya menceraikan suami dari istrinya. Maaf sekali lagi, bukan penulis yang memberi sebutan mereka setan atau iblis.

Iblis dan setan selain pengadu domba juga pelaku sihir. Begitu pula dengan pelakor dan pabinor. Mereka dibuat seolah-olah sempurna dimata pasangan sah. Mereka diperlihatkan lebih baik dari pasangan sah agar manusia tergoda dan mengikuti jalannya. Sebagaimana janji iblis, ia tak akan membiarkan manusia tenang, hingga ia mengikuti jalannya. Maka tak jarang pasangan sah lebih memilih pelakor/pebinor dari pada pasanhan sahnya karena beranggapan ia lebih baik atau lebih sempurna.

"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." Tafsir Quran Surat Al-Baqarah Ayat 102

#####

Dahsyatnya perbuatan iblis, apalagi yang berwujud manusia ini dalam merusak rumah tangga kaum muslimin perlu dilawan dengan cara yang telah ditentukan.

1. Bila suami tergoda wanita lain, sampaikan kepadanya ia boleh menikah lagi dengan wanita yang sholehah. Selain sholehah, wanita tersebut harus menerima kondisi dan posisinya sebagai istri ke-2. Wanita sholehah tentu akan bisa menerima dan bekerja sama dengan istri pertama untuk meraih ridho Illahi.

Bila wanita ke-2 setuju, maka menikah adalah solusi demi kebaikan atas keluarga mereka. Namun jika wanita ke-2 tidak setuju, tapi terus mendekati si suami atau suami mendekatinya, ingatkan dengan tegas pada keduanya! Itu perbuatan setan. "Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).

Jika mereka sudah menikah diam-diam, ikhlaskan! Namun jika wanita ke-2 terus menuntut menceraikan istri pertama atau mengadu domba keluarga dan membuat tidak tenang. Ingatkan kepadanya perbuatannya haram sebagaimana riwayat berikut:

“Tidak halal bagi seorang wanita meminta seseorang mentalak istrinya sebagai bentuk menumpahkan piring saudaranya. Silahkan dia menikah, dia akan mendapatkan jatah rizki sesuai apa yang ditakdirkan untuknya.” (HR. Bukhari)

(Tolong jangan berargumen tidak mau dipoligami atau lebih baik mati daripada poligami. Poligami itu syariat. Syariat ada untuk menjaga.)

2. Bila istri tergoda laki-laki lain, nasihati, dan beri peringatan yang tegas bahwa perbuatannya dosa. Bila istri semakin dekat dengan pebinor setelah diingatkan, beri pelajaran istri.

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS an-Nisa: 34)

Jangan sampai sebagai laki-laki digolongkan sebagai suami Dayyuts bila tidak menegur istri karena tidak memiliki rasa cemburu saat istri berbuat maksiat. Bagaimanakah tipe suami yang tidak punya rasa cemburu?

“Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya.” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain)

Adapun maksud ad dayyuts sebagaimana disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu.

####

Istri atau suami yang bersabar dan bertahan untuk mengingatkan pasangannya, serta pelakor dan pebinor dimasukan dalam golongan Rasul Allah karena itu tandanya dia cemburu saat pasangannya melakukan perbuatan maksiat (nusyuz). Tentu dengan cara yang baik dan makruf. Pelakor dan pebinor bukan termasuk Ummat Rasul Allah.

”Bukan bagian dari kami, Orang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga dia melawan suaminya.” (HR. Abu Daud 2175 dan dishahihkan al-Albani)

Setelah semua daya upaya melawan iblis berwujud manusia sudah dilakukan, dan pasangan lebih memilih kepada pelakor atau pebinor, cukuplah ayat ini sebagai pelipur hatimu, sahabat:

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."  An Nur ayat 26.

Ketahuilah tidaklah Allah mengambil sebuah nikmat, kecuali Allah akan siapkan pengganti yang lebih baik selama ia bersabar dalam menghadapi musibah. Ummu Salamah dimana ketika suaminnya wafat ia mengucapkan kalimat Istirja’, “Sesungguhnya kami ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, ya Allah berikan pahala atas musibah dan berikan ganti yang lebih baik , lalu Allah ganti dengan suami yang lebih baik yaitu Muhammad Saw.”

Pesan untuk pelakor:
- Jaga kehormatan diri dan keluargamu.
- Laki-laki tidak akan menggoda wanita yang menjaga kehormatan dirinya. Hanya wanita yang pantas digoda saja yang dia ganggu.

Pesan untuk pebinor:
- Jaga kehormatan diri dan keluargamu
- Wanita yang dengan mudah diganggu dan digoda bukan termasuk golongan wanita baik-baik.
PENULIS Yang Jahat Akan Menghasilkan Pembaca Yang Jahat
PENULIS Yang Jahat Akan Menghasilkan Pembaca Yang Jahat

PEMBUNUHAN BALITA 5 TAHUN OLEH SISWI 15 TAHUN YANG VIRAL, JUGA AKIBAT DOSA PENULIS.
Masih viral kisah seorang siswi 15 tahun membunuh balita 5 tahun sebagai akibat dari hobinya menonton film horor, dan triller.
Rasa penasarannya membunuh akibat keinginannya mempraktekkan dan mengetahui bagaimana rasa membunuh.

Tidak bisa dikatakan 100% adalah salah anak remaja itu.
Yang pernah merasakan usia remaja pasti tahu, kalau saat-saat itu rasa ingin tahu akan semua hal sedang memuncak. Apalagi jika itu mengenai hobi dan kesukaan.
Dari perbuatan buruk si remaja, penulis yang menulis cerita dari film-film yang dia tonton, pun ikut berperan. Karena karyanyalah sehingga terinspirasi melakukan hal yang sama.
Tidak adanya nilai moral yang dipaparkan secara jelas dalam satu tulisan membuat remaja yang masih labil menelannya secara mentah. Belum lagi sinetron yang tidak bermutu, banyak bertebaran di televisi saat malam tiba saat waktu istrihat dan kumpul dengan keluarga.
Bukannya otaknya diisi dengan sesuatu yang bernilai positif, malah diisi dengan cerita percintaan dan kekerasan. Akibatnya, mereka dipaksa dewasa belum pada waktunya.
Sebut saja sinetrom 'Anak Langit, Anak Jalanan, Ganteng-Ganteng Serigala, dan masih banyak judul sunetron lainnya' yang bertema remaja, tapi mengusung adegan kekerasan dan percintaan khas orang dewasa atau bahkan hubungan privasi suami istri.

Belum lagi film kartun yang diperuntukkan bagi anak kecil dan remaja, malah semakin kesini semakin sadis ceritanya, sebut saja salah satunya adalah 'Naruto' yang di dalam adegannya banyak mengandung kekerasan dan bunuh membunuh, tapi malah dibiarkan tayang secara bebas.
Stasiun televisi seolah abai dengan semua itu, dan lebih mengutamakan keuntungan finansial dari semuanya.
Akhirnya, apa yang meraka lihat, diperaktekkan di dunia nyata. Tawuran antar sekolah, perkelahian, bully, seks bebas, dan hilangnya norma-norma soial.
Salah siapa itu semua?
Tentunya banyak pihak yang terlibat, salah satunya adalah penulis naskah atau cerita.
Setidaknya, jikalau ingin memposting atau membuat karya tulisan, sertakanlah nilai-nilai sosial agar para pembacanya bisa mengambil nilai positif dari setiap tulisan yang dibaca.
Jangan sampai tulisan yang dibuat, malah menjerumuskan pembaca kelembah dosa dan kehinaan. Akhirnya, dosa itu pun kita turut menanggungnya.
Semoga ini jadi perhatian bagi semua kalangan, agar tindak kriminalitas dan minim nilai sosial, bisa ditekan.
PENULIS Yang Jahat Akan Menghasilkan Pembaca Yang Jahat
AGAMA PENYEBAB INDONESIA TIDAK BISA MAJU?
AGAMA PENYEBAB INDONESIA TIDAK BISA MAJU?

Waktu masih sangat pagi ketika saya menemukan sebuah tulisan tentang 'agama yang menjadi penyebab Indonesia tidak maju'. Beberapa komentar dan kritikan pedas langsung dilayangkan ke penulis. Beberapanya lagi bahkan menghujat dan memaki dengan kata-kata yang tidak sebaiknya dipaparkan di media sosial. Sungguh, hal ini menggelitik saya untuk memberikan beberapa pandangan tentang 'agama' dan 'kemajuan suatu bangsa.
Pertanyaan pertama, apa sebenarnya standar suatu negara disebut negara maju?

Indonesia dihuni oleh lebih dari dua ratus juta penduduk. Namun sangat disayangkan, sebagian besar penduduk Indonesia kurang mampu berpikiran luas tentang arti 'kemajuan'.
Kemajuan hanyalah sebuah perspektif yang bersifat relatif. Beberapa negara dianggap sebagai negara maju (menurut persepsi orang Indonesia) adalah negara yang memiliki tingkat teknologi dan ekonomi yang tinggi seperti USA, Rusia, Jepang, dan Jerman. Banyak yang melupakan sudut pandang yang lain seperti :

1. Finlandia (maju dalam bidang pendidikan)
2. Arab Saudi (maju dalam pelayanan ibadah keagamaan)
3. UEA (maju dalam bidang pariwisata)
4. Denmark (maju dalam bidang penanganan korupsi)
5. Luksemburg (maju dalam bidang perkapita)
dll.


Mungkin banyak di antara masyarakat Indonesia yang tidak tahu bahwa beberapa negara merasa iri dengan Indonesia karena keramahannya. Beberapa guru asing yang pernah mengajar di Indonesia mengaku terkejut setelah tangan mereka dicium dengan penuh hormat oleh para murid setelah selesai jam belajar. Sungguh sesuatu yang tidak pernah mereka alami di negara mereka masing-masing.
Di sisi lain, seperti yang telah saya jabarkan sebelumnya, kemajuan bersifat relatif. Seorang penjual bubur di kaki lima pun akan dianggap maju setelah memiliki toko bubur sendiri. Sedangkan seorang pengusaha berpenghasilan satu triliun belum dianggap maju jika tahun berikutnya tetap berpenghasilan sama.
Pertanyaan kedua, apakah agama mendorong negara untuk maju?


Inilah yang sedikit dipahami oleh banyak orang. Bahwa sebuah kemajuan tidak akan bertahan lama selama tidak ada kebaikan di dalam diri manusia itu sendiri. Ada banyak contoh di luar sana, dimana sebuah negara yang awalnya sejahtera tiba-tiba mengalami krisis berkepanjangan ketika kebaikan itu memudar. Sehingga semua orang di dunia sekarang ini mengerti bahwa kejujuran itu adalah sesuatu yang sangat langka.


Nah, saya percaya dan sangat yakin bahwa agama manapun di dunia ini selalu mengajarkan kepada kebaikan. Agama manapun selalu mendorong setiap pribadi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Perlombaan inilah yang akan menghasilkan kemajuan. Sebagai contoh, seorang murid akan terinspirasi ketika melihat gurunya yang demam terus mengajar berapi-api meski kata-kata sang guru diselingi batuk keras.
Sebagian orang mungkin akan mempertanyakan tentang konflik keagamaan. Sehingga dengan mudahnya menghakimi agama sebagai penyebab kemunduran sebuah negara. Tapi sayangnya, mereka tidak tahu (atau mungkin menolak untuk tahu) bahwa setiap penganut agama yang mempelajari agama dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah menyebarkan kebencian pada satu agama lain. Jika iya, maka kolom agama di KTP mereka hanyalah sebuah tulisan, bukan keyakinan.


Pertanyaan utama, mengapa Indonesia belum juga maju meski sebagian besar rakyatnya adalah orang beragama?
Sulit untuk menjawab pertanyaan ini jika tidak melihat Indonesia secara luas. Seperti yang telah saya katakan di awal, bahwa kemajuan itu hanyalah sebuah perspektif yang bersifat relatif. Sebagai bangsa Indonesia, saya sangat bersyukur lahir disini dan menjadi bagian dari negara ini karena kemajuan dalam bidang keramahan dan toleransi adalah yang paling saya butuhkan.

Saya tidak perlu memberi contoh yang banyak, karena hampir setiap orang tahu tentang konflik di beberapa negara yang selalu berakhir dengan kematian dan kerusakan parah. Dan sayapun bisa menambahkan contoh di beberapa negara yang (katanya) adidaya namun mengalami kemerosotan dalam hal kesehatan, moral, hingga hukum.
Namun saya juga tidak akan membantah Indonesia yang sangat sulit untuk maju dalam bidang pendidikan maupun ekonomi. Saya akan paparkan

beberapa kejadian :
1. Seorang mahasiswa kedokteran pernah diusir dari suatu daerah karena mengatakan dan membuktikan bahwa menanam ari-ari bayi tidak akan pernah berdampak pada kebaikan atau keburukan sang bayi.
2. Seorang guru yang mendisiplinkan anak justru dianggap sebagai penganiaya.
3. Seorang PSK membela diri dan memelas dengan mengatakan bahwa mereka menjadi PSK demi memenuhi kebutuhan makan.
4. Seorang yang berpenghasilan rendah sering menolak saran dan ajaran orang yang berpenghasilan tinggi dengan alasan 'gak bisa', 'gak mungkin', ataupun 'sombong banget jadi orang, mentang-mentang...'.
5. Acara-acara tradisi dengan biaya ratusan juta rupiah yang tidak bersumber dari agama ataupun ilmu pengetahuan, meski seluruh penduduknya tahu bahwa desa mereka adalah desa yang miskin.
6. Orang-orang yang menganggap rokok sebagai sumber inspirasi.
7. Membela diri dari kesalahan dan mencari teman yang sama-sama salah dengan berkata 'loh, kok cuma saya yang dihukum? Si anu dan si itu kan juga sama...'. Padahal, salah itu tetap salah.
8. Menganggap partai politik ataupun tokoh politik layaknya nabi yang harus dijaga dan dipertahankan dengan nyawa.
9. Merasa sedikit ilmu yang dimilikinya sudah cukup untuk beropini tentang politik, sosial, ekonomi, dan yang terburuk, agama seakan-akan dirinya lebih cerdas dibanding para ahli.
10. Menjadikan nilai ujian sebagai standar kecerdasan dan kebaikan sehingga seringkali orang tua membandingkan anaknya dengan anak tetangga.


Sepuluh contoh di atas telah menjadi pembuktian bahwa agama sama sekali tidak memperlambat kemajuan. Bahwasanya kemajuan dalam bidang apapun bergantung pada ilmu pengetahuan, sedangkan agama menjaga kemajuan untuk tidak merosot.
With all of my respect,





By: Fb R.Hakim